Minggu, 04 Maret 2012

METODE INABAH

Inti metode dan teknik terapi spiritual yang digunakan di Inabah dalam menyembuhkan orang yang ketergantungan NAPZA dan stress merujuk pada konsep metode penyadaran diri, dalam arti menanamkan kesadaran akan hubungan seorang hamba dengan Penciptannya. Penyadaran diri dari kelalaian manusia terhadap hakekat diri dan Tuhannya, penyadaran diri dari kelalaian terhadap hakekat serta tujuan hidupnya; darimana ia berasal, untuk apa ia hidup, dan akan kemana kembalinya.

Mengapa penyadaran tersebut sangat penting? Akibat kelalaian manusia akan hakekat diri dan Tuhannya ini, banyak manusia tersesat dalam perjalanan hidupnya dan tidak mampu menjalani hidup dengan bahagia. Tujuan penerapan metode Inabah yang utama adalah agar Anak Bina dikembalikan kesadarannya agar tidak lupa kepada hakekat diri dan Tuhannya serta memiliki arah hidup yang jelas dan mampu mengembalikan diri ke jalan yang benar serta diridhai Allah. Berbagai hasil penelitian yang pernah dilakukan, diantaranya oleh Emo Kastama Abdulkadir (1994) menyimpulkan bahwa metode Inabah cukup efektif dan efisien dalam proses penyembuhan orang yang ketergantungan obat-obat terlarang dengan tingkat keberhasilan mencapai 80% hingga 92%. Penelitian lainpun telah membuktikan bahwa jangka waktu pembinaan (terapi) di Inabah memiliki relevansi yang positif dengan penurunan gejala- gejala keluhan fisik maupun psikosomatis.

Proses penyadaran yang digunakan dalam metode Inabah ini diistilahkan dalam Tarekat Qodiriyah Naqsyabandiyah (TQN) sebagai tazkiyatun nafsi atau pembersihan jiwa dari berbagai penyakit atau kotoran hati, seperti: kikir, ambisius, iri hati, bodoh, hedonistik, dan berbagai akhlak tercela lainnya. Berbagai akhlak tercela tersebut merupakan sumber kerusakan moral dan pribadi seseorang, yang pada gilirannya dapat merusak jiwa (psike), bahkan fisik seorang manusia (soma), sehingga muncul istilah penyakit psikosomatis. Tepatlah isyarat yang telah ditegaskan oleh Rasulullah saw bahwa antara jiwa dan raga (fisik) mempunyai keterkaitan yang erat dalam mewujudkan kesehatan seorang manusia. Bunyi hadits tersebut sangat terkenal dan sering dibacakan oleh para Kyai sebagai berikut :

ألا إن فى الجسد مضغة فإن صلحت صلح الجسد كله وإن فسدت فسد الجسد كله , ألا وهى القلب

Artinya: Sesungguhnya di dalam jasad manusia itu ada segumpal daging. Jika daging itu baik, maka baiklah seluruh jasadnya. Sebaliknya jika daging itu rusak, maka rusaklah seluruh jasadnya. Ingatlah segumpal daging itu adalah Qolbu (hati)”.

Metode penyadaran diri dalam TQN menggunakan pendekatan sufistik dengan cara mendekatkan diri kepada Allah, memperbanyak ibadah kepada-Nya, dan mengisi sebanyak mungkin alam kesadaran manusia dengan nama Allah, serta menjauhkan diri dari dorongan dan kecendrungan jiwa rendah. Kecendrungan jiwa- jiwa rendah (nafsu amarah dan nafsu lawwamah) yang bersifat materialistic, dan hedonistic, dibersihkan dalam upaya penyadaran diri sehingga pengaruhnya mampu diatasi. Nafsu amarah memiliki gejala- gejala negative berupa kikir, ambisius, dengki, keras kepala, hedonistic, sombong, dan pemarah. Sedangkan nafsu lawwamah memiliki Sembilan macam gejala, yaitu: suka mencela, suka menuruti hawa nafsu, merekayasa, bangga kepada diri sendiri, suka menggunjing, tidak bisa berbuat adil, pembohong, dan suka lupa kepada Allah. TQN mengajarkan prinsip- prinsip hidup yang menekankan pada kestabilan jiwa seperti: tahan menghadapi problema hidup (sabar), mengakui dan berterima kasih atas jasa pihak lain (syukur), menerima kenyataan hidup dengan penuh kesadaran (qanaah), rela atas ketetapan Yang Maha Kuasa (ridha), menyerahkan segala hasil usaha kepada Yang Maha Kuasa (tawakkal), dan lain- lainnya. Sikap mental sufistik tersebut merupakan prasyarat bagi seseorang untuk merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya, baik kebahagiaan dunia maupun kebahagiaan akherat.

Filosofi atas sistem kerja metode ini adalah bahwa unsur- unsur pikiran, yang terdiri dari tangkapan panca indera semata- mata (materialistik) akan selalu disertai oleh daya- daya nafsu (jiwa) tercela kita, yaitu egocentros polemos dan eros, atau ghadlab dan syahwat, yang apabila dihambat dapat menjadi sumber penyakit- penyakit psikologis dan psikomatif. Padahal kemungkinan timbulnya penghambatan impuls urat syaraf yang mengalir ke dalam otak adalah sangat besar, dikarenakan setiap tuntutan yang didorong nafsu tidak semuanya terpenuhi. Tidak terpenuhinya keinginan- keinginan tersebut akan menimbulkan ketegangan dan tekanan batin atau ketidakharmonisan psikologis.

Satu - satunya jalan impuls urat syaraf yang tidak mudah dihambat adalah apabila pikiran ditingkatkan ke arah alam abstrak melalui badan pikiran (corpus mentalis) menuju ke budhi dan terus ke Tuhan. Adapun pikiran yang tidak mudah dihambat oleh keterbatasan dirinya adalah pikiran yang dikuasai oleh nafsu terpuji, yaitu kecendrungan religius atau nafsu muthmainnah. Inilah target psikoterapi sufistik yang dikembangkan oleh TQN PP.Suryalaya dengan metode Inabahnya.

Sebagai sebuah metode terapi penyadaran diri, Inabah mempunyai beberapa komponen yang saling terkait satu sama lainnya dan sangat berpengaruh terhadap proses penyembuhan anak bina. Komponen- komponen tersebut adalah :

a.Mursyid atau Syeikh, yaitu pemimpin atau guru besar dalam sebuah tarekat. Seorang Mursyid dalam sebuah tarekat adalah segalanya dan penentu semua aktivitas ketarekatan atau aktivitas kesufian para muridnya. Bahkan seorang murid dalam tarekat dihadapan Mursyidnya ibarat seorang mayat dihadapan orang yang memandikannya. Dalam proses terapinya peranan seorang Mursyid merupakan seorang profesional (terapis) yang berhubungan dengan anak bina melalui komunikasi verbal dan non verbal serta berusaha menghilangkan gangguan emosional, mengubah gangguan perilaku, dan memupuk perkembangan kepribadian yang baik dengan prinsip- prinsip ajaran Tasawuf Islam. Selanjutnya Mursyid mengajak dialog dan mendengarkan keluhan anak bina dengan penuh empati sebagai upaya memahami kondisi kejiwaannya dan memahami sejauhmana ia telah tersesat jalan. Dilanjutkan dengan memberikan penjelasan tentang prinsip hidup Islami dalam pemahaman tasawuf dan memberikan pelajaran (talqin) dzikir.

b.Para Pembina, yaitu pelaksana operasional yang membina sehari- hari di pondok- pondok remaja Inabah yang secara konsisten dan kontinyu membimbing selama 24 jam di pondok bina.

c.Kurikulum, maksudnya berupa berbagai kegiatan yang berupa aktivitas ibadah yang harus dilaksanakan oleh setiap anak bina selama menjalani masa penyembuhan, baik berupa ibadah- ibadah wajib, sunat, mandi taubat, dzikir, khotaman, manakiban, dan lainnya.

d.Sarana prasarana sebagai komponen penunjang yang sangat penting dalam mengkondisikan para anak bina agar dapat lebih mudah untuk melupakan berbagai permasalahan jiwanya, atau melupakan berbagai kebiasaan jelek yang merusak jiwanya. Sarana dan prasarana ini mencakup pemondokan, tempat tinggal pembina, mesjid, ketersediaan air, dan sebagainya.

e.Anak Bina atau pasien yang akan menjalani terapi. Dalam proses terapinya para anak bina ini bertindak sebagai murid yang mengamalkan Tarekat Qodiriyah Naqsyabandiyah (TQN) Suryalaya. Mereka datang ke Pondok Pesantren Suryalaya dan meminta untuk dibimbing ke Sesepuh melalui Bidang Inabah Yayasan Serba Bakti Pusat. Untuk itu target terapi tidak sebatas hanya sembuh secara medis atau psikologis pada umumnya, melainkan diharapkan mampu menjadi manusia yang “arif billahi” atau menjadi manusia yang ma’rifat kepada Allah Ta’ala, yang mempunyai kepribadian religius dan transedentalis.

2.Beberapa Teknik yang digunakan di Inabah

Dalam praktek metode Inabah, teknik yang digunakan adalah berbagai amaliah yang dilaksanakan dalam Tarekat Qodiriyah Naqsyabandiyah (TQN) pondok Pesantren Suryalaya, yaitu dengan memperbanyak amaliah sebagai berikut :

a.Mandi Taubat

Mandi taubat adalah amalan yang biasa dilaksanakan oleh para sufi dan ahli tarekat. Mandi ini dilaksanakan dengan niat taubat atau menghilangkan berbagai dosa dari seluruh anggota tubuh, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Caranya dengan mengalirkan air ke seluruh permukaan tubuh, dari atas ke bawah secara merata, dan dilaksanakan sekitar pukul: 02.00 dini hari. Ketika sedang menyiramkan air ke sekujur tubuh, dibacalah doa :

رَبِّ أَنْزِلْنِي مُنْزَلًا مُبَارَكًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْمُنْزِلِينَ

yang artinya : “Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah Sebaik-baik yang memberi tempat."

Mandi taubat sangat ampuh untuk meningkatkan kesadaran diri (self consciousness) dan penyembuhan dari berbagai penyakit. Hal ini berdasarkan pemahaman dan interpretasi pada firman Allah yang artinya: “ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi”. (Q.S.Al- Nisa: 43).

Dalam ayat lain disebutkan :“ (ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan mesmperteguh dengannya telapak kaki(mu)”.(Q.S.Al-Anfal: 11).

Kata kunci dari kedua ayat diatas adalah “sukara” (mabuk) dan “nu’asa” (mengantuk); kedua keadaan tersebut pada hakekatnya adalah kelalaian dan kealpaan diri, atau hilangnya kesadaran diri. Keadaan ini dapat dihilangkan dengan air dan mandi, demikian juga berbagai kondisi psikologis lain yang diakibatkan adanya pengaruh syeitan, seperti : lemas, gelisah, susah, stress, dan lainnya. Berbagai keadaan psikologis tersebut sebagai tanda ketidaksehatan mental sehingga jiwa tidak bahagia akibat pengaruh bisikan syeitan.

Mandi taubat tersebut dilakukan layaknya mandi besar, yaitu dengan mengalirkan air pada seluruh anggota tubuh, mulai dari ubun- ubun sampai ujung kaki disertai niat bertaubat sebagai ekspresi dari keinginan untuk membersihkan diri dari dosa anggota tubuh secara keseluruhan. Dengan demikian mandi taubat dapat dikatakan sebagai taubat dalam bentuk perilaku atau taubat yang bersifat aktif dan ekspresif.

Selain manfaat psikologis sebagaimana diterangkan diatas, mandi taubat memiliki manfaat terapi terhadap penyakit atau gangguan- gangguan biologis (fisik) yang bersifat psikosomatif. Mandi taubat dipandang sebagai hydrotherapy atau pengobatan dengan memanfaatkan air sebagai sarananya. Menurut Simon Baruch (1840-1921) seorang doktor Amerika, bahwa air memang memiliki daya penenang jika suhu air sama dengan suhu kulit, dan memiliki daya rangsang jika suhu air tidak sama dengan suhu kulit. Sedangkan menurut Ewalt, pasien yang mengalami delirium alcohol dan yang menunjukkan keresahan, agitasi, over aktif, kecemasan yang akut dan tumor akibat keracunan obat- obatan menunjukkan respon yang baik terhadap hydrotherapy.

Mandi taubat selain dengan niat taubat, juga memiliki nilai meditasi dan sugesti. Ketika dibacakan doa khusus mandi taubat : “Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah Sebaik-baik yang memberi tempat." Maka doa ini akan membuka secercah harapan untuk mendapatkan lingkungan dan dunia baru yang lebih baik, suasana dan kondisi yang lebih tercerahkan, sehingga frustasi dan segala bentuk pelampiasannya akan dapat dicegah laksana pohon kayu yang kini mulai bersemi kembali. Selanjutnya anak bina diajak untuk melaksanakan shalat berjamaah.

b.Shalat :

Shalat merupakan ibadah mahdhah (ritual) yang telah baku dalam Islam. Amalan shalat menjadi metode penyadaran diri yang sangat diutamakan, baik shalat wajib maupun shalat sunat. Khusus untuk penyembuhan atas ketergantungan narkoba, amalan shalat dikerjakan dengan peraturan yang sangat ketat. Semua jenis shalat baik yang wajib ataupun yang sunat yang ditetapkan dalam kurikulum Inabah, diberlakukan sebagai kewajiban yang harus dilaksanakan bagi seluruh anak bina. Karena diyakini bahwa shalat ini memiliki daya penyadar yang sangat besar, untuk itu selain shalat wajib sehari semalam, intensitasnya diperbanyak dengan melaksanakan berbagai shalat sunat. Dengan demikian dalam sehari semalam, seluruh anak bina melaksanakan amalan shalat tidak kurang dari 82 rakaat.

Penerapan amalan shalat sebagai salah satu metode tazkiyatun-nafsi didasarkan pemikiran bahwa shalat mempunyai hikmah yang dapat mempengaruhi pribadi seseorang untuk tidak bertindak keji (perzinahan, perjudian, minum minuman keras dan sejenisnya) dan mungkar ( yaitu segala macam tindakan yang bersifat deskruktif dan anarkis). Dasarnya firman Allah dalam surat al-Ankabut: 45 yang artinya:“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar”. Termasuk dalam pelaksanaannya dilakukan secara berjamaah, didasarkan pada aspek edukatif yang bertujuan mendapatkan manfaat pembersihan jiwa yang lebih efektif. Sebagaimana keyakinan akan kebenaran sabda Rasulullah saw yang artinya: “ Barangsiapa shalat empat puluh hari (berjamaah) dengan tidak ketinggalan takbiratul-ihramnya imam, maka Allah akan membebaskannya dari dua hal; bebas dari penyakit nifaq (kemunafikan), dan bebas dari neraka “ (H.R. Abu Na’im).

Disamping dasar pemikiran tersebut, shalat juga dikerjakan dalam rangka memperbaiki hubungan diri dengan Allah swt. Karena manusia dimana saja pasti akan tertimpa kenistaan, manakala tidak baik hubungannya dengan Allah dan tidak baik hubungannya dengan sesama manusia. Sebagaimana firman Allah yang artinya : “ Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan”. (Q.S.Ali Imran : 112).

Dari segi tata cara bacaan maupun gerakannya, shalat akan menuntun orang yang melaksanakannya untuk menyadari kemahabesaran dan keagungan Allah, dan sekaligus membangkitkan kesadaran akan kelemahan diri sendiri. Dengan demikian, seseorang yang banyak melakukan shalat akan menjadi seorang yang transendentalis (orang yang memiliki kesadaran transcendental) atau dalam istilah tasawuf disebut ma’rifat, yaitu seorang yang sadar betul akan posisi Tuhannya dan posisi dirinya. Proses perubahan kondisi psikologis ini disebut individualisasi atau proses penemuan jati diri. Dengan metode shalat ini, akhirnya seseorang akan malu dan takut untuk berbuat maksiat, khususnya yang bersifat keji (fahsya) dan anarkis (munkar). Ia juga akan senantiasa ingat kepada Allah (Dzikrullah), yang pada gilirannya akan terselamatkan dari godaan iblis yang senantiasa membisikkan dorongan untuk berbuat maksiat kepada Allah.

Selain manfaat psikologis yang bersifat terapi, shalat juga mempunyai manfaat somatic atau psikosomatif. Hal ini disebabkan karena secara mekanis gerakan dalam shalat memiliki aspek olahraga dan akupuntur yang bersifat terapi. Mulai dari kegiatan pra-shalat, yaitu wudhu ataupun mandi, dan seluruh gerakan dalam kegiatan shalat. Berwudhu akan memberikan suasana relaksasi bagi seseorang, disamping gerakannya untuk menggosok dan mengusap wajah, tangan, dan kaki. Semuanya ini berdasarkan tinjauan pijak refleksi dan akupuntur sangat bermanfaat bagi kesehatan fisik. Karena dengan gosokan itu akan merangsang simpul- simpul syaraf yang ada pada anggota tubuh yang terkena air wudhu tersebut. Demikian juga halnya gerakan shalat, mulai dari takbir, berdiri, ruku, sujud, dan duduknya sangat baik untuk menunjang kesehatan fisik.

Sedangkan bacaan- bacaan yang bersifat meditative dan doa sangat bermanfaat untuk kesehatan jiwa, karena mengandung kekuatan spiritual atau kekuatan rohaniah yang dapat membangkitkan rasa percaya diri (self confident) dan optimistis; keduanya sangat penting bagi penyembuhan suatu penyakit.

c.Dzikir

Dzikir merupakan amaliah pokok dalam Tarekat Qodiriyah Naqsyabandiyah (TQN) yang mempunyai manfaat sangat besar dalam upaya pembersihan jiwa. Allah telah berfirman dalam surat ar-Ra’d ayat 28 artinya :” (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”.

Dalam hadits dikatakan tentang manfaat dzikir ini sebagai berikut :

إن لكل شئ صقالة و إن صقالة القلوب ذكرالله, وما من شئ أنجي من عذاب الله من ذكرالله

Artinya: “ Sesungguhnya bagi setiap segala sesuatu itu ada alat pembersihnya, dan sesungguhnya alat pembersih hati (jiwa) adalah dzikir kepada allah. Dan tidak ada sesuatu yang lebih dapat menyelamatkan dari siksa allah daripada dzikrullah ” (H.R.Baihaqi).

Dengan mengistiqomahkan dzikir jahar Laa Ilaaha Illallah dan dzikir khofi yang ditalqinkan oleh seorang Mursyid, maka dzikir ini menunjukkan komitmen seseorang untuk senantiasa menyebut dan mengingat asma Allah, menanamkan suatu kesadaran bahwa tiada Tuhan selain Allah. Selain itu akan menjadi autoterapi atas ketergantungan Napza pada seseorang. Seseorang yang melaksanakan dzikir dengan serius dan istiqomah akan merasakannya sebagai katarsis (kanalisasi psikologis), bahkan insight. Proses terjadinya penyadaran dan perubahan kondisi psikologis saat melaksanakan dzikir dengan penuh khusyu ini akan ditandai dengan kesempurnaan tujuh tingkat kesadaran atau dikenal dengan tujuh macam nafsu, yaitu :

1.Nafsu Ammarah

2.Nafsu Mulhimah

3.Nafsu Muthmainnah

4.Nafsu Radliyah

5.Nafsu Mardliyah

6.Nafsu Lawwamah

7.Nafsu Kamilah.

Dengan memperbanyak dzikrullah diharapkan akan memberikan pengalaman psikologis dan spiritual (ahwal) dan pada waktunya ahwal-ahwal ini menjadi semakin permanen sebagai maqam hasil dari usaha untuk mempertahankannya. Dzikir merupakan suatu media dalam syariat Allah dan melaksanakan fungsi- fungsi sosial sebagaimana mestinya dengan penuh keridloan-Nya.

d.Qiyamul-lail

Qiyamul-lail atau bangun (shalat) di malam hari adalah salah satu metode pembersihan jiwa.Amalan qiyamul-lail ini merupakan amalan yang sangat lajim dilakukan para ahli tarekat dan merupakan amalan sunat yang sangat diistimewakan. Bahkan di jaman Rasulullah saw amalan suanat ini pernah menjadi amalan wajib, sebagaimana difirmankan Allah dalam surat al-Mujammil berikut artinya : “1. Hai orang yang berselimut (Muhammad), 2. Bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), 3.(yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, 4. Atau lebih dari seperdua itu. dan Bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan,5. Sesungguhnya kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat, 6. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan, 7. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak)”.

Pelaksanaan qiyamul-lail ini sangat ditekankan untuk lebih memberi efek tazkiyatun-nafsi dan berbagai manfaat psikologis lainnya, apalagi Allah telah menegaskan tentang ganjaran dan keutamaan qiyamul-lail ini dalam surat al-Isra ayat 79 disebutkan artinya :” Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji”.

Demikian pula disebutkan dalam hadits :

من أخلص ساعة قبل الصبح أربعين ليلا يتبع من قلبه حكمة أي خروج نور من القلب

Artinya : “ Barangsiapa yang (melakukan amalan) secara ikhlas sebelum shubuh satu jam saja selama empat puluh malam, maka akan memancar hikmah dari hatinya atau keluar cahaya hatinya “.

Qiyamul-lail atau bangun di malam hari untuk bermunajat dan beribadah kepada Allah dengan melakukan shalat atau amalan-amalan lainnya sangat dianjurkan dalam Islam dan merupakan amalan mulia yang biasa dilakukan para shalihin. Ketika orang lain terlelap tidur, lalu bangun malam untuk bermunajat dan beribadah dalam suasana sepi senyap secara psikologis sangat kondusif dan mampu meningkatkan konsentrasi serta kekhusuan dalam beribadahnya.

Dalam realisasi qiyamul-lail dengan metode Inabah ini diisi dengan berbagai amaliah, yaitu: mandi taubat, shalat-shalat sunat (sekitar 100 rakaat sebagaimana diterangkan dalam kurikulumnya), dan dzikir yang sebanyak- banyaknya sampai menjelang waktu shubuh. Seluruh kegiatan qiyamul-lail tersebut dimulai sejak pukul 02.00 sampai menjelang shubuh. Kegiatan qiyamul-lail ini memiliki aspek olahraga yang sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh dan mampu memperlancar peredaran darah. Khususnya pada gerakan- gerakan dalam shalat dan mandi taubat, didukung dengan suasana waktu yang mempunyai suhu dan kepekatan udara sedang dalam kondisi yang paling jernih. Sehingga kecepatan suara batin (menurut perhitungan para ahli metafisika) paling cepat dan munajat pada waktu itu adalah paling baik dan paling mudah terkabulkan. Menurut perhitungan Circadian Rhythm (irama biologik dari komponen biologik dalam tubuh dan berkaitan erat dengan fungsi fisiologis tubuh), bahwa sekitar pukul.04.00 manusia berada pada titik yang paling lemah dan paling peka terhadap serangan penyakit dan kematian (M.Sholeh, 2000:117). Dengan beraktivitas yang teratur pada rentang waktu tersebut akan melatih fisik memiliki daya tahan yang lebih baik.

e.Puasa

Amalan lain yang tidak kalah penting dalam proses Inabah ini adalah berpuasa yang merupakan bagian dari Rukun Islam. Puasa memiliki nilai sangat penting dalam pembersihan jiwa, dikarenakan puasa (menahan dari makan, minum, dan berhubungan sex) yang disertai niat karena Allah akan mampu meningkatkan kualitas jiwa dan memperlemah daya nafsu hewani dan potensi primitif manusia. Puasa baik yang wajib maupun yang sunat mampu menekan tabiat rendah manusia dan menyehatkan jiwa dan raga.

Dengan memperbanyak puasa, seseorang akan terlatih secara psikologis untuk berperilaku disiplin dan meningkatkan kemampuan untuk mengendalikan diri. Puasapun sangat bagus dalam mengasah rasa kesetiakawanan sosial, karena dengan latihan merasakan lapar dan dahaga akan menurunkan ambisi, kerakusan, egoistis, dan kepekaan terhadap penderitaan orang lain. Dengan lemahnya fisik, maka ambisi dan semangat untuk mencapai keinginan hawa nafsunya akan melemah, dan ia akan lebih banyak merenungkan hakekat hidup daripada bergerak menuju hawa nafsunya.

Menurut al-Amiri (Abu al-Hasan Muhammad ibn Yusuf al- Amiri) seorang filosof muslim (wafat tahun 992 M), gerak dan pemikiran manusia itu dikendalikan oleh tiga tabiat, yaitu: tabiat kebinatangan, tabiat kemanusiaan, dan tabiat kemalaikatan. Tabiat kebinatangan seperti: makan, minum, dan sex, kalau dituruti sesuai dengan keinginannya maka ia akan mengarahkan manusia kearah kehidupan rendah (binatang). Tabiat kemalaikatan, seperti: rindu dan asyik berdekatan dengan Tuhan akan mengarahkan manusia pada kehidupan alam atas (alam malaikat). Sedangkan tabiat kemanusiaan berada di posisi tengah, maka dengan mempersempit ruang gerak tabiat kebinatangan, manusia akan meningkat kepada tabiat kemalaikatan. Sebaliknya kalau mengikuti tabiat kebinatangan, maka manusia menurun kepada tabiat kebinatangannya. Selain itu puasa memiliki berbagai manfaat psikologis lainnya dan juga sangat berguna bagi kesehatan tubuh atau psikosomatik, seperti terciptanya kesehatan dan keseimbangan asam basa lambung, dikarenakan stress, tekanan darah tinggi, terlalu banyak kolesterol dan lainnya (Hembing, 1997: 4).

Berbagai amalan diatas merupakan amalan yang biasa dilakukan dalam keseharian seorang muslim, hanya bedanya adalah kualitas dan kwantitasnya lebih ditingkatkan dengan panduan langsung dari seorang Guru Mursyid. Bahkan untuk lebih meningkatkan kualitas tersebut ditambah dengan berbagai amalan yang selalu dilakukan seorang sufi, seperti: khotaman, manakiban, ziarah, dan lainnya

Sumber :
http://inabah23putra.blogspot.com/p/metode-inabah.html
http://www.inabah.com/p/pembinaan.html
Al-qur'an & As-sunnah
http://suryalaya.org/ver2/main.html

Rabu, 29 Februari 2012

MEMPERHATIKAN SHOLAT-SHOLAT SUNNAH


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

إِنَّنِي أَناَ اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَناَ فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلاةَ لِذِكْرِي

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, Maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (QS. Thaha 14)

وَيُنْدَبُ قَضاَءُ نَفْلِ مُؤَقَّتٍ إِذاَ فاَتَ كاَلعِيْدِ وَالرَّوَاتِبِ وَالضُّحَى لاَ ذِيْ سَبَبٍ كَكُسُوْفٍ وَتَحِيَّةٍ وَسُنَّةِ وُضُوْءٍ

Disunnahkan untuk meng-qodlo shalat sunnah yang memiliki waktu jika tertinggal, seperti shalat lebaran, shalat rowatib dan shalat dluha. Tetapi tidak untuk meng-qodlo shalat sunnah yang memiliki sebab, seperti shalat gerhana, shalat tahiyyatul mesjid dan shalat sunnah wudlu.

وَمَنْ فاَتَهُ وِرْدُهُ أَيْ مِنَ النَّفْلِ المُطْلَقِ نُدِبَ لَهُ قَضاَؤُهُ وَكَذَا غَيْرُ الصَّلاَةِ وَلاَ حَصْرَ لِلنَّفْلِ المُطْلَقِ

Juga disunnahkan meng-qodlo shalat sunnah mutlak yang tertinggal, apabila ia telah rutin dilakukan, ini sama halnya dengan selain shalat. Shalat sunnah mutlak itu tidak terbatas.

Meng-qodlo shalat sunnah yang memiliki waktu adalah berdasarkan hadits yang sangat populer, yaitu :

مَنْ ناَمَ عَنْ صَلاَةٍ أَوْ نَسِيَهاَ فَلْيُصَلِّهاَ إِذَا ذَكَرَهاَ

Artinya :
Barangsiapa tertidur sehingga tertinggal melaksanakan shalat, atau ia lupa melaksanakan shalat, maka hendaknya segera melaksanakan shalat itu apabila sudah ingat (meng-qodlo). (HR. Muslim)

Juga berdasarkan hadits berikut :

وَِلأَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَضَى بَعْدَ الشَّمْسِ رَكْعَتَيْ الفَجْرِ وَبَعْدَ العَصْرِ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ بَعْدَ الظُّهْرِ رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَغَيْرُهُ

Karena baginda Nabi SAW pernah meng-qodlo shalat sunnah subuh dan shalat sunnah Asar dua raka’at setelah terbit Matahari, tepatnya setelah Dzuhur (HR. Muslim dan yang lainnya)

Hadits lainnya :

مَنْ ناَمَ عَنْ وِتْرِهِ أَوْ سُنَّتِهِ فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَهُ رواه أبو داود بإسناد حسن

Barangsiapa tertidur sehingga tertinggal shalat witir atau shalat sunnah lainnya maka hendaklah melakukan qodlo apabila ingat. (HR. Abu Daud) dengan sanad (periwayat) yang baik.
Shalat sunnah yang tidak bisa diqodlo ialah shalat sunnah yang memiliki sebab, seperti shalat gerhana. Karena melakukan shalat gerhana harus pada saat terjadi gerhana. Jika gerhana sudah hilang maka tidak dapat diqodlo. Berikut penjelasan Ulama Syekh Muhmmad Syato dalam kitab I’anathu-Thalibin :

أَىْ لاَ يُنْدَبُ قَضَاءُ نَفْلِ ذِيْ سَبَبٍ وَذَلِكَ ِلأَنَّ فَعْلَهُ لِعاَرِضِ السَّبَبِ وَقَدْ زَالَ فَلاَ يُقْضَى

Artinya :
Tidak disunnahkan meng-qodlo shalkat sunnah yang memiliki sebab, karena melakukan shalat sunnah ini jika terjadi hal baru yaitu gerhana, jika gerhana itu hilang maka tidak dapat diqodlo.

Shalat sunnah Istisqo sama seperti shalat gerhana, ia tidak dapat diqodlo.

Alasan disunnahkan meng-qodlo shalat sunnah adalah supaya hawa nafsu tidak dibiarkan dalam keadaan malas, agar cenderung selalu giat beribadah “MEMPERHATIKAN SHALAT SUNNAH” selalu memperhatikan perintah Allah, walau itu hukumnya sunnah, sehingga merasa bersalah apabila tidak melakukannya. Tidak sampai menyepelekan shalat sunnah, yang pada akhirnya akan mendapatkan keridloan Allah SWT. Berikut penjelasannya :

أَيْ لِئَلاَّ تَمِيْلُ نَفْسُهُ إِلىَ الدُّعَةِ وَالرَّفاَهِيَّةِ

Artinya :
Agar hawa nafsunya tidak cenderung memiliki sifat pemalas (dalam beribadah) dan tidak merasa senang atau bangga (ketika suatu ibadah sunnah tertinggal).

Seperti halnya disunnahkan meng-qodlo shalat sunnah, juga disunnahkan meng-qodlo ibadah sunnah lainnya yang sudah rutin.

Berikut redaksinya :

أَيْ وَكَذَلِكَ يُنْدَبُ قَضاَءُ الوِرْدِ الفاَئِتِ مِنْ غَيْرِ الصَّلاَةِ لِماَ قَدَّمْناَ

Artinya :
Demikian pula disunnahkan meng-qodlo shalat sunnah, ialah meng-qodlo ibadah rutin yang tertinggal yang bukan shalat,


URUTAN KEUTAMAAN SHALAT SUNNAH

وَقاَلَ فىِ المَجْمُوْعِ أَفْضَلُ النَّفْلِ عِيْدُ أَكْبَرٍ فَأَصْغَرٌ فَكُسُوْفٌ فَخُسُوْفٌ فاَسْتِسْقاَءٌ فَوِتْرٌ فَرَكْعَتاَ فَجْرٍ فَبَقِيَّةُ الرَّوَاتِبِ فَجَمِيْعُهاَ فيِ مَرْتَبَةٍ وَاحِدَةٍ فاَلتَّرَاوِيْحُ فاَلضُّحَى فَرَكْعَتاَ الطَّوَافِ وَالتَّحِيَّةُ وَالإِحْرَامُ فاَلوُضُوْءُ

Artinya :
Imam An-Nawawiy berkata dalam kitab-nya, Al-Majmu’ ; Urutan shalat sunnah yang paling utama ialah shalat sunnah Idul Ahda, kemudian disusul shalat sunnah Idul Fitri, shalat sunnah gerhana matahari, shalat sunnah gerhana bulan, shalat sunnah Istisqo, shalat sunnah Witir, shalat sunnah Subuh, kemudian shalat sunnah Rowatib lainnya, semua Rowatib (yang selain shalat sunnah subuh) ialah satu martabat, kemudian shalat sunnah Tarawih, shalat sunnah Dluha, shalat sunnah Towaf, shalat sunnah Tahiyyatul mesjid, shalat sunnah Ihrom dan terakhir shalat sunnah Wudlu.

Daftar Pustaka : Fathul Mu’in – Syekh Zaenuddin Al-Malaberiy
I’anatuth-Tnalibin – Syekh Muhammad Syato

Allah maha mengetahui atas segalanya.

KURIKULUM INABAH DAN PRAKTEK PEMBINAANNYA


Dalam proses pembinaan para Anak Bina di Pondok Remaja INABAH Pondok Pesantren Suryalaya ada tiga amalan pokok sebagai standar utama, yaitu : mandi taubat, sholat, dan dzikir dengan metode TQN yang dilaksanakan secara istiqomah dan berkelanjutan sehari semalam serta berbagai amalan penunjang lainnya, dengan rincian :

Kegiatan dimulai pada pukul.02.00 dini hari, dimana semua Anak Bina harus bangun dan langsung mandi taubat.
1. Sebelum Anak Bina itu mandi, dan masuk jamban atau kamar mandi, mereka harus berdoa sebagaimana tuntunan Hadist dengan do’a :
اللهم إنى أعوذ بك من الخبث والخبائث

Artinya : “Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan laki-laki dan perempuan”

2. Setelah berada di jamban dan akan memulai mandi, Anak Bina membaca doa yang dipetik dari Al-Quran surat al-Mu’minun ayat 29 :

رَبِّ أَنْزِلْنِي مُنْزَلًا مُبَارَكًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْمُنْزِلِينَ
Artinya : “dan berdoalah: Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah Sebaik-baik yang memberi tempat."

3. Setelah mandi dan keluar dari jamban, dengan bimbingan Para Pembina mengucapkan doa yang diajarkan Rasulullah SAW:

الحمد لله الذى أذهب عنى الأذى وعا فنى , أشهد أن لا إله إلاالله وأشهد أن محمدا رسول الله

Artinya : “Segala puji bagi Allah yang telah melenyapkan penyakit dari dalam diriku dan telah memberiku sehat, aku bersaksi tiada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu Rasul Allah”

4. Selesai membaca doa diatas, maka Anak Bina melakukan shalat sunat Syukrul-Wudhu 2 rakaat dengan satu salam. Dilaksanakan setelah wudhu dengan niatnya :

أصلى سنة لشكرالوضوء ركعتين لله تعالى الله أكبر

Artinya : “Aku niat mengerjakan shalat Syukrul-Wudhu 2 rakaat karena Allah, Allah Maha Agung”

5. Setelah melaksanakan shalat sunat Syukrul-Wudhu, dilanjutkan shalat sunat tahiyyatul-masjid apabila shalat di mesjid sebanyak 2 rakaat dengan niat :

أصلى سنة تحية المسجد ركعتين لله تعالى الله أكبر

Artinya : “Aku niat menunaikan shalat Tahiyyatul-Masjid 2 rakaat karena Allah, Allah Maha Agung”.

6. Setelah shalat Tahiyyatul-Masjid para anak Bina melaksanakan shalat sunat Taubat sebanyak 2 rakaat, niatnya :

أصلى سنة التوبة ركعتين لله تعالى الله أكبر

Artinya : “Aku niat shalat Taubat 2 rakaat karena Allah, Allah Maha Agung”.

7. Dilanjutkan dengan melaksanakan shalat sunat Tahajjud atau shalat malam, minimal 2 rakaat dan maksimal 12 rakaat 6 rakaat. Niatnya :

أصلى سنة التهجد ركعتين لله تعالى الله أكبر

Artinya : “Aku niat shalat Tahajjud 2 rakaat karena Allah, Allah Maha Agung”

8. Setelah Tahajjud, lalu melaksanakan shalat sunat Tasbih 4 rakaat 2 salam dengan niat :

أصلى سنة التسبيح ركعتين لله تعالى الله أكبر


Artinya : “Aku niat shalat tasbih 2 rakaat karena Allah, Allah Maha Agung”

Dinamakan shalat Tasbih karena setiap rakaatnya diperbanyak bacaan tasbih, yang bacaannya :

سبحان الله والحمدلله ولا إله إلا الله والله أكبر ولاحول ولاقوة إلابالله

Artinya : “Maha Suci Allah, semua pujian hanya kepada Allah, tiada Tuhan selain Allah. Allah Maha Agung, tidak ada daya dan upaya kecuali dari Allah Yang Maha Agung”

Pada setiap rakaat shalat Tasbih, bacaan tasbih diatas dibaca sebanyak 75 kali dengan rincian:
- Setelah fatihah dan surat, sambil berdiri membaca 15 kali
- Ketika ruku’ 10 kali
- Ketika I’tidal 10 kali
- Ketika sujud 10 kali
- Ketika duduk iftirasy (duduk antara dua sujud) 10 kali
- Ketika sujud kedua 10 kali
- Ketika bangun dari sujud kedua sebelum berdiri 10 kali

9. Setelah shalat Tasbih, lalu menunaikan shalat Witir sebanyak 11 rakaat atau 3 rakaat saja dengan 2 kali salam (shalat pertama 2 rakaat dan shalat kedua satu rakaat). Untuk niat Witir yang 2 rakaat:

أصلى سنة الوتر ركعتين لله تعالى الله أكبر

Artinya : “Aku niat shalat Witir 2 rakaat karena Allah, Allah Yang Maha Agung”

Untuk niat Witir yang satu rakaat:
أصلى سنة الوتر ركعة لله تعالى الله أكبر

Artinya : “Aku niat shalat Witir 1 rakaat karena Allah, Allah Yang Maha Agung”

10. Selesai shalat Witir, dilanjutkan dengan dzikir sebanyak-banyaknya, baik dzikir jahar maupun khofi sampai datang waktu shubuh.

11. Ketika datang waktu shubuh, lalu melaksanakan shalat sunat qabla shubuh,niatnya:

أصلى سنة فبل السبح ركعتين لله تعالى الله أكبر

Artinya : “Aku niat shalat sunat qabla shubuh 2 rakaat karena Allah, Allah Yang Maha Agung”

12. Setelah shalat sunat qabla shubuh, lalu melaksanakan shalat sunat Li Daf’il-bala sebanyak 2 rakaat sekali salam dengan lafal niatnya:

أصلى سنة لدفع البلاء ركعتين لله تعالى الله أكبر

Artinya : “Aku niat shalat lidaf’il bala 2 rakaat sunat karena Allah, Allah Maha Agung”

13. Selanjutnya melaksanakan shalat fardhu shubuh sebanyak 2 rakaat dan dilanjutkan dzikir jahar 165, tawassul, dan dzikir khofi. Niat shalat Shubuh:

أصلى فرض السبح ركعتين لله تعالى الله أكبر

Artinya : “Aku niat shalat Shubuh 2 rakaat karena Allah, Allah Maha Agung”

14. Ketika matahari terbit sekitar pukul.06.00, melaksanakan shalat Isyraq sebanyak 2 rakaat, niatnya:

أصلى سنة الإشراك ركعتين لله تعالى الله أكبر

Artinya : “Aku niat shalat Isyraq 2 rakaat karena Allah, Allah Maha Agung”

15. Dilanjutkan dengan melaksanakan shalat Isti’adah sebanyak 2 rakaat, niatnya:

أصلى سنة الإستعادة ركعتين لله تعالى الله أكبر

Artinya : “Aku niat shalat Isti’adah 2 rakaat karena Allah, Allah Maha Agung”
16.
Lalu melaksanakan shalat Istikharah sebanyak 2 rakaat dengan niat:

أصلى سنة الإستخارة ركعتين لله تعالى الله أكبر

Artinya : “Aku niat shalat Istikharah 2 rakaat karena Allah, Allah Maha Agung”

17. Sekitar pukul.09.00 dilanjutkan dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak 8 rakaat 4 kali salam atau sekurang- kurangnya 2 rakaat, niatnya:

أصلى سنة الضحى ركعتين لله تعالى الله أكبر

Artinya : “Aku niat shalat Dhuha 2 rakaat sunat karena Allah, Allah Maha Agung”

18. Dilanjutkan melaksanakan shalat Kifaratul-baul sebanyak 2 rakaat dengan niat::

أصلى سنة كفارة البول ركعتين لله تعالى الله أكبر

Artinya : “Aku niat shalat Kifaratul-baul 2 rakaat karena Allah, Allah Maha Agung”

19. Ketika masuk waktu Dhuhur sekitar pukul 12.00 setelah Adzan, melaksanakan shalat qabla Dhuhur sebanyak 2 rakaat, dzikir jahar 165 kali, tawassul, dan khofi. Niat shalat qabla Dhuhur :

أصلى سنة قبل الظهر ركعتين لله تعالى الله أكبر

Artinya : “Aku niat shalat sunat qabla Dhuhur 2 rakaat karena Allah, Allah Maha Agung”

20. Selesai shalat Qabla Dhuhur, dilanjutkan melaksanakan shalat Fardhu Dhuhur sebanyak 4 rakaat, niatnya:

أصلى فرض الظهر أربع ركعات لله تعالى الله أكبر


Artinya : “Aku niat shalat Dhuhur 4 rakaat karena Allah, Allah Maha Agung”

21. Shalat ba’da Dhuhur sebanyak 2 rakaat, niatnya:

أصلى سنة بعدالظهر ركعتين لله تعالى الله أكبر

Artinya : “Aku niat shalat sunat ba’da Dhuhur 2 rakaat karena Allah, Allah Maha Agung”


22. Sekitar pukul 15.00 ketika masuk waktu Ashar, melaksanakan shalat sunat Qabla Ashar sebanyak 2 rakaat, niatnya:

أصلى سنة قبل العصر ركعتين لله تعالى الله أكبر

Artinya : “Aku niat shalat sunat Qabla Ashar karena Allah, Allah Maha Agung”

23. Dilanjutkan melaksanakan shalat Ashar sebanyak 4 rakaat dan dzikir jahar 165 kali, tawassul, dan khofi. Niat shalat Ashar:

أصلى فرض العصر أربع ركعات لله تعالى الله أكبر

24. Ketika masuk Maghrib sekitar pukul 18.00, melaksanakan shalat Qabla Maghrib sebanyak 2 rakaat, dengan niat :

أصلى سنة قبل المغرب ركعتين لله تعالى الله أكبر

Artinya : “Aku niat shalat sunat Qabla Maghrib 2 rakaat karena Allah, Allah Maha Agung”

25. Seterusnya shalat fardhu Maghrib sebanyak 3 rakaat dan dzikir jahar 165 kali, tawassul, dn khofi. Adapun niat shalaf fardhu Maghrib adalah:

أصلى فرض المغرب ثلاث ركعات لله تعالى الله أكبر

Artinya : “Aku niat shalat fardhu Maghrib 3 rakaat karena Allah, Allah Maha Agung”

26. Setelah sholat, melaksanakan dzikir dan dilanjutkan dengan Khotaman (sesuai dengan petunjuk Buku amaliah TQN) yang dipimpin Imam.Setelah selesai Khotaman dilanjutkan dengan melaksanakan beberapa shalat sunat yaitu:
27. Shalat sunat ba’da Maghrib sebanyak 2 rakaat dengan niat:

أصلى سنة بعدالمغرب ركعتين لله تعالى الله أكبر

Artinya : “Aku niat shalat ba’da Maghrib 2 rakaat karena Allah, Allah Maha Agung”

28. Setelah ba’da Maghrib, dilanjutkan dengan shalat Awwabin dengan niat:

أصلى سنة الأوبين ركعتين لله تعالى الله أكبر

Artinya : “Aku niat shalat sunat Awwabin 2 rakaat karena Allah. Allah Maha Agung”.

29. Lalu shalat sunat Taubat sebanyak 2 rakaat, niatnya :

أصلى سنة التوبة ركعتين لله تعالى الله أكبر

Artinya : “Aku niat shalat Taubat 2 rakaat karena Allah, Allah Maha Agung”.

30. Shalat sunat birrul- wallidin sebanyak 2 rakaat dengan niat :

أصلى سنة برالوالدين ركعتين لله تعالى الله أكبر

Artinya : “Aku niat shalat sunat Birrul-Walidain 2 rakaat karena Allah, Allah Maha Agung”

31. Shalat sunat Li Hifdhil-Iman sebanyak 2 rakaat dengan niat:

أصلى سنة لحفظ الإيمان ركعتين لله تعالى الله أكبر

Artinya : “Aku niat shalat sunat Li Hifdhil-Iman 2 rakaat karena Allah, Allah Maha Agung”

32. Shalat sunat Li Syukrin-Ni’mah sebanyak 2 rakaat, niatnya :

أصلى سنة لشكر النعمة ركعتين لله تعالى الله أكبر

Artinya : “Aku niat shalat sunat Li Syukrin-Ni’mah 2 rakaat karena Allah, Allah Maha Agung”

33. Apabila masuk waktu Isya sekitar pukul.19.00, adzan telah dikumandangkan, melaksanakan shalat sunat Qabla Isya sebanyak 2 rakaat, niatnya:

أصلى سنة قبل العشاء ركعتين لله تعالى الله أكبر

Artinya : “Aku niat shalat sunat Qabla Isya 2 rakaat karena Allah, Allah Maha Agung”

34. Dilanjutkan dengan melaksanakan shalat fardhu Isya sebanyak 4 rakaat dengan niat:

أصلى فرض العشاء أربع ركعات لله تعالى الله أكبر

Artinya : “Aku niat shalat fardhu Isya 4 rakaat karena Allah, Allah Maha Agung”

35. Dilanjutkan dengan shalat sunat ba’da Isya sebanyak 2 rakaat dan dzikir jahar 165 kali, tawassul, dan khofi. Adapun niat shalat sunat ba’da isya adalah:

أصلى سنة بعد العشاء ركعتين لله تعالى الله أكبر

Artinya : “Aku niat shalat sunat ba’da isya 2 rakaat karena Allah, Allah Maha Agung”

Menjelang waktu tidur sekitar pukul.21.30, anak Bina mengambil wudhu dan melaksanakan beberapa shalat sunat, yaitu:
36. Shalat sunat Syukrul-Wudhu sebanyak 2 rakaat (niatnyasudah ditulis sebelumnya)
37. Shalat sunat Mutlaq sebanyak 2 rakaat dengan niat :

أصلى سنة المطلق ركعتين لله تعالى الله أكبر

Artinya : “Aku niat shalat sunat Mutlaq 2 rakaat karena Allah, Allah Maha Agung”

38. Shalat sunat Istikharah sebanyak 2 rakaat (niatnya sudah ditulis sebelumnya)


Disamping kegiatan yang berupa bersuci (thaharah), mandi, wudhu, shalat, dan dzikir, juga diberikan pelajaran dan praktek berbagai doa harian yang diambil dari petunjuk dan sunnah Rasulullah saw, seperti : doa sebelum masuk jamban, doa sesudah selesai dan keluar dari jamban, doa waktu mandi taubat, doa sebelum tidur, doa setelah bangun tidur, doa sebelum makan, doa setelah selesai makan, dan lainnya.

Dalam prakteknya Pondok Remaja Inabah melakukan tiga tahap, yaitu :
a.Tahap Pra Perawatan : Setelah calon Anak Bina dititipkan, Pembina akan mengamati gerak-gerik dan prilaku si calon serta mewawancarainya. Hal ini sebagai diagnosa awal, lalu selama tujuh hari dilakukan pengamatan khusus, dan biasanya dalam rentang waktu ini Pembina telah dapat menyimpulkan jenis dan katagori gangguan kejiwaannya. Kemudian calon yang dianggap telah siap ditalqin (diajarkan) dzikir, dihadapkan kepada Mursyid atau Wakil Talqin untuk menerima pengajaran dzikir TQN.
Apabila jenis gangguan kejiwaan calon Anak Bina masih ringan, seperti: suka berdusta, minum-minuman keras yang ringan dan malas sekolah, maka dalam waktu kurang dari tujuh hari biasanya sudah dapat ditalqin dzikir. Bahkan sudah mampu disentuh perasaannya oleh Pembina. Sehingga ia dapat menyadari akan kesalahan dan kekeliruannya dan segera memperbaiki diri atau bertaubat. Akan tetapi jika gangguan kejiwaannya agak berat atau pengaruh racun narkobanya sudah berat, maka perlu waktu sekurang-kurangnya tujuh hari bahkan lebih agar mampu disentuh perasaannya sebelum diberikan talqin dzikir, dan perawatannyapun sampai enam bulan atau lebih.
b. Tahap Perawatan : dalam tahap ini Anak Bina diajak melaksanakan seluruh kegiatan ibadah dari mulai bangun tidur (pukul.02.00 dini hari) sampai tidur kembali (pukul.21.30) seperti yang telah disebutkan dalam kurikulum Metode Terapi Inabah diatas.
c. Tahap Pasca Perawatan : Setelah dianggap memungkinkan keluar Inabah, Anak Bina tersebut sangat dianjurkan untuk selalu mengikuti amaliah ibadah seperti yang telah dilaksanakan di Inabah atau bergabung dengan lingkungan yang memungkinkan melaksanakan amaliah ibadah seperti yang telah dilaksanakan di Inabah. Tahapan ini sangat urgen sekali, mengingat Anak Bina tersebut ada kemungkinan akan bertemu kembali dengan kawan-kawan lamanya. Kalau tidak menjaga diri dan tidak meningkatkan kualitas iman dan ilmu agamanya, tidak mustahil akan terpengaruh lagi dan akan kembali ke habitat negatif sebelumnya. Untuk itu seorang Anak Bina yang sudah menjadi alumni Inabah, bukan berarti sudah selesai pembinaannya dan tidak perlu lagi melaksanakan amaliah ibadah seperti di Inabah.. Sebaliknya justru harus semakin meningkatkan kualitas ibadah dan keimanannya, dan kalau perlu menjauhi lingkungan atau kawan-kawan lamanya yang negatif agar tidak mudah terpengaruh kembali.


PROSES PENILAIAN ANAK BINA SELAMA PEMBINAAN DI INABAH


Penilaian anak bina di Inabah adalah upaya atau tindakan untuk mengetahui sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan itu tercapai atau tidak dalam proses pembinaan. Dengan kata lain, penilaian berfungsi sebagai alat untuk mengetahui keberhasilan proses dan hasil pembinaan anak bina selama dibina di Inabah. Dalam suatu sistem pendidikan atau pembinaan proses penilaian sangat penting sebagai upaya untuk lebih meningkatkan kembali berbagai upaya dalam mencapai hasil yang diinginkan melalui berbagai tahapan yang sudah direncanakan secara baik.
Salah satu prinsip dasar yang harus senantiasa diperhatikan dan dipegangi dalam rangka penilaian proses pembinaan di Inabah adalah prinsip kebulatan atau menyeluruh, dimana penilai mampu membuat penilaian yang menyeluruh terhadap peserta anak bina, baik dari segi pemahamannya terhadap materi atau bahan pelajaran yang telah diberikan (aspek kognitif), maupun dari segi penghayatan (aspek afektif), dan pengamalannya (aspek psikomotor), serta perilaku yang berhubungan dengan motivasi atau penggeraknya (Konatif).
Keempat aspek atau ranah kejiwaan itu erat sekali dan bahkan tidak mungkin dapat dilepaskan dari kegiatan atau proses evaluasi atau penilaian pembinaan di Inabah. Dalam konteks evaluasi hasil pembinaan di Inabah, maka keempat ranah itulah yang harus dijadikan sasaran dalam setiap kegiatan evaluasi atau penilaian hasil pembinaan. Sasaran kegiatan penilaian atau evaluasi hasil pembinaan di Inabah ini adalah:
Psikis, yaitu berhubungan dengan psikis atau ruhani anak bina pasca pembinaan di Inabah yang mencakup:
Visi Ke depan
Prinsip
Komitmen
Penilaiannya difokuskan pada ;
Aktualisasi diri, yaitu bagaimana anak bina mengaktualisasikan dirinya dalam tingkah laku kesehariannya pasca pembinaan
Kontrol diri, yaitu sejauhmana anak bina mampu mengontrol diri dalam upaya aktualisasi dirinya pasca pembinaan
Membangun kepercayaan diri, yaitu sejauhmana anak bina mampu membangun kepercayaan dirinya setelah melewati proses pembinaan
Proses Perjuangan Menuju Perbaikan, yaitu adakah upaya yang dilakukan anak bina dalam memperbaiki dirinya,
Minat Belajar, yaitu adakah minat anak bina untuk melanjutkan belajar, baik formal atau non formal pasca pembinaan
Cara Pandang Ke masa depan, yaitu bagaimana anak bina memandang masa depannya pasca pembinaan.


Sosial, yaitu berhubungan dengan bagaimana anak bina bermasyarakat, meliputi :
Peka terhadap lingkungan.
Minat
Konsekwensi diri atau tanggung-jawab pribadi
Hidup dalam keteraturan
Penilaiannya terfokus pada:
Kepekaan , yaitu sejauhmana kepekaan anak bina terhadap orang lain atau lingkungan sekitar
Kesadaran , yaitu sejauhmana kesadaran anak bina dalam hidup bermasyarakat
Kepedulian, yaitu sejauhmana kepedulian anak bina terhadap orang lain atau lingkungan sekitar
Toleransi yaitu sejauhmana toleransi anak bina terhadap orang lain dalam bermasyarakat
Proses Komunikasi yaitu sejauhmana kemajuan anak bina dalam berkomunikasi dengan orang lain dalam bermasyarakat
Tanggung Jawab yaitu sejauhmana rasa tanggung-jawab anak bina sebagai warga dalam bermasyarakat


Religisitas atau religiusitas, yaitu rasa keberagamaan anak bina yang mencakup:
Durasi atau rentang (Lamanya) waktu yang digunakan anak bina untuk ibadah
Frekwensi atau seberapa banyak ibadah yang dilakukan anak bina
Presistensi atau keistiqomahan anak bina dalam melakukan ibadah
Devosi atau Pengorbanan diri anak bina dalam rangka ibadah kepada Allah
Penilaian difokuskan pada aspek :
Teologis, yaitu aspek ketauhidan atau keimanan kepada Allah
Ritualitas, yaitu upaya yang dilaksanakan dalam merealisasikan keimanan dalam bentuk ibadah
Penghayatan, yaitu sejauhmana nilai lebih yang didapat dari realisasi ibadah anak bina dalam bentuk akhlakul karimah dalam hidupnya
Pengetahuan, yaitu aspek pengetahuan agama yang menunjang dalam melaksanakan agama islam
Konsekwensiolitas, yaitu sejauhmana tanggung-jawab dan konsekwensi dari keimanan anak bina dalam kehidupannya, baik berbentuk tingkah laku atau akhlaknya


Keilmuan atau aspek ilmu pengetahuan agama Islam yang didapat anak bina selama masa pembinaan di Inabah yang mencakup:
Pengalaman dalam mempelajari berbagai pengetahuan agama selama di Inabah
Keikutsertaan dalam belajar berbagai pengetahuan agama yang diberikan selama di Inabah
Perubahan yang didapat anak bina dalam segi pengetahuan agama selama di Inabah
Fokus penilaian adalah dalam :
Amaliah Utama meliputi:
Amaliah Mandi Taubat
Thaharah
Sholat – sholat Wajib/Fardu
Sholat – Sholat Sunat
Amaliah Dzikir
Tawasul dan Tahlil
Amaliah Khataman
Amaliah Manakiban
Amaliah penunjang yang meliputi;
Tauhid
Fiqih
Ahklaq Tasawuf
Baca Tulis Al-Qur’an
Do’a-Do’a Harian
Surat-surat Pendek ( Zuz-Amma)


Minat dan Bakat yang meliputi ;
1. Olah raga:
2. Seni dan lainnya.


Dengan diadakannya proses penilaian secara menyeluruh kepada para anak bina diharapkan mampu mengetahui sejauhmana kemaksimalan pembinaan di Inabah dan secara otomatis dapat disiasati berbagai kekurangannya demi perbaikan di masa mendatang.
Perbandingan keberhasilan pembinaan dapat direkap secara baik, ketika diawal anak masuk pembinaan sudah direkap bagaimana catatan awal anak bina masuk pembinaan. Catatan awal ini sangat penting guna mengetahui sejauhmana keberhasilan proses pembinaan di Inabah. Selain itu sudah pasti menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, baik adanya keluhan dari orang-tua anak bina pasca pembinaan atau mendeteksi sedini mungkin berbagai kemungkinan penyakit yang dibawa anak sebelum masuk pembinaan.
Selanjutnya berbagai keberhasilan atau kemajuan yang dialami anak bina pasca pembinaan di Inabah ditulis dengan baik dalam catatan anak bina sebelum meninggalkan tempat pembinaan. Hal ini bertujuan untuk memberikan panduan atau semacam arahan bagi keberlanjutan pembinaan anak bina pasca pembinaan, apalagi para orang-tua yang bertanggung-jawab secara langsung bagi pembinaan selanjutnya sangat memerlukan berbagai informasi tentang anaknya. Dengan harapan agar adanya kesinambungan pembinaan yang dilakukan setelah anak bina keluar dari tempat pembinaan di Inabah, baik bagi anak yang ingin melanjutkan sekolahnya ataupun yang ingin bekerja dan berumahtangga.
Dari hasil pantauan Bidang Inabah selama ini ternyata kesuksesan pembinaan pasca keluar dari Inabah berhubungan erat dengan sejauhmana proses pembinaan dengan metode Inabah ini terus dilaksanakan pasca pembinaan Inabah. Proses pembinaan di rumah atau di tempat lain di luar Inabah akan efektif dan berhasil guna selama anak bina tersebut istiqamah melaksanakan amaliah Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah (TQN) yang dipraktekkan di Inabah dalam kesehariannya, baik mandi malamnya, sholat-sholat sunat, dzikir, khotaman, maupun manakibannya. Semakin istiqamah seseorang mengamalkan TQN, maka semakin besar pula peluang untuk lebih baik di masa depannya. Sebaliknya jika amaliah TQN ini terputus, maka ada kemungkinan anak tersebut kembali kepada kebiasaan negative masa lalunya atau bahkan lebih rusak lagi, diakibatkan tidak adanya pembinaan berkelanjutan.


PENJELASAN ISTILAH
Psikis, yaitu berhubungan dengan psikis atau ruhani anak bina pasca pembinaan di Inabah yang mencakup:
Visi Ke depan, yaitu kemampuan untuk melihat inti persoalan dan cara pandang ke depan
Prinsip, yaitu pegangan kebenaran pokok yang menjadi dasar dalam bertindak
Komitmen, yaitu keterikatan dalam melakukan sesuatu
Penilaiannya difokuskan pada ;
Aktualisasi diri, yaitu bagaimana anak bina mengaktualisasikan dirinya dalam tingkah laku kesehariannya pasca pembinaan
Kontrol diri, yaitu sejauhmana anak bina mampu mengontrol diri dalam upaya aktualisasi dirinya pasca pembinaan
Membangun kepercayaan diri, yaitu sejauhmana anak bina mampu membangun kepercayaan dirinya setelah melewati proses pembinaan
Proses Perjuangan Menuju Perbaikan, yaitu adakah upaya yang dilakukan anak bina dalam memperbaiki dirinya,
Minat Belajar, yaitu adakah minat anak bina untuk melanjutkan belajar, baik formal atau non formal pasca pembinaan
Cara Pandang Ke masa depan, yaitu bagaimana anak bina memandang masa depannya pasca pembinaan.

Sosial, yaitu berhubungan dengan bagaimana anak bina bermasyarakat, meliputi :
Peka terhadap lingkungan.
Minatyaitu kecendrungan hati terhadap sesuatu
Konsekwensi diri adalah tanggung-jawab diri dalam melakukan sesuatu
Hidup dalam keteraturan
Penilaiannya terfokus pada:
Kepekaan , yaitu sejauhmana kepekaan anak bina terhadap orang lain atau lingkungan sekitar
Kesadaran , yaitu sejauhmana kesadaran anak bina dalam hidup bermasyarakat
Kepedulian, yaitu sejauhmana kepedulian anak bina terhadap orang lain atau lingkungan sekitar
Toleransi yaitu sejauhmana toleransi anak bina terhadap orang lain dalam bermasyarakat
Proses Komunikasi yaitu sejauhmana kemajuan anak bina dalam berkomunikasi dengan orang lain dalam bermasyarakat
Tanggung Jawab yaitu sejauhmana rasa tanggung-jawab anak bina sebagai warga dalam bermasyarakat

Religisitas atau religiusitas, yaitu rasa keberagamaan anak bina yang mencakup:
Durasi atau rentang (Lamanya) waktu yang digunakan anak bina untuk ibadah
Frekwensi atau seberapa banyak ibadah yang dilakukan anak bina
Presistensi atau keistiqomahan anak bina dalam melakukan ibadah
Devosi atau Pengorbanan diri anak bina dalam rangka ibadah kepada Allah
Penilaian difokuskan pada aspek :
Teologis, yaitu aspek ketauhidan atau keimanan kepada Allah
Ritualitas, yaitu upaya yang dilaksanakan dalam merealisasikan keimanan dalam bentuk ibadah
Penghayatan, yaitu sejauhmana nilai lebih yang didapat dari realisasi ibadah anak bina dalam bentuk akhlakul karimah dalam hidupnya
Pengetahuan, yaitu aspek pengetahuan agama yang menunjang dalam melaksanakan agama islam
Konsekwensiolitas, yaitu sejauhmana tanggung-jawab dan konsekwensi dari keimanan anak bina dalam kehidupannya, baik berbentuk tingkah laku atau akhlaknya

Keilmuan atau aspek ilmu pengetahuan agama Islam yang didapat anak bina selama masa pembinaan di Inabah yang mencakup:
Pengalaman dalam mempelajari berbagai pengetahuan agama selama di Inabah
Keikutsertaan dalam belajar berbagai pengetahuan agama yang diberikan selama di Inabah
Perubahan yang didapat anak bina dalam segi pengetahuan agama selama di Inabah
Fokus penilaian adalah dalam :
Amaliah Utama meliputi:
Amaliah Mandi Taubat (mandi pada awal pagi hari sekitar pukul.02.00 dengan niat bertaubat)
Thaharah (bersuci baik dari hadats maupun najis)
Sholat – sholat Wajib/Fardu
Sholat – Sholat Sunat
Amaliah Dzikir (dengan metode khusus Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah)
Tawasul dan Tahlil
Amaliah Khataman (amalan khusus bagi ikhwan Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah)
Amaliah Manakiban(amalan khusus bagi ikhwan Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah)

Amaliah penunjang yang meliputi;
Tauhid
Fiqih
Ahklaq Tasawuf
Baca Tulis Al-Qur’an
Do’a-Do’a Harian
Surat-surat Pendek ( Zuz-Amma)

Minat dan Bakat yang meliputi ;
1) Olah raga:
2) Seni dan lainnya.

Sumber :
Al-qur'an & As-sunnah

SHALAT SUNAT KAFFAROTUL BAULI

Sholat Sunat Kaffarotul Bauli adalah Sholat Sunat yang dilaksanakan setelahnya kita melaksanakan sholat sunat dhuha dan diperuntukan melebur dosa dari kencing, setiap rakaat setelah Al-Fatihah membaca Al-Kautsar tujuh kali. Sholat ini juga merupakan sholat yang menyelamatkan manusia dari siksa kubur.

Sebagaimana Nabi bersabda :

"Bersucilah kamu sekalian dari air kencing, sebab kebanyakan siksa kubur itu diakibatkan dari kecerobohan air kencing ".




Pustaka : Kitab Sirrul Asror, Fasal 21, Aurod Kholwat

SHOLAT SUNAT ISTIKHOROH

Shalat Istikhoroh adalah shalat sunah untuk memohon petunjuk kepada Allah ketentuan pilihan yang lebih baik diantara dua hal atau lebih yang belum dapat ditentukan, karena terkadang apa yang terlihat oleh manusia itu baik tetapi menurut pandangan Allah buruk, sebaliknya menurut pandangan manusia buruk tetapi sesunguhnya menurut Allah baik.Hanya Allah yang maha tahu dan yang menentukan segala urusan manusia.Dengan beristikharah berarti memohon petunjuk yang lebih baik.Sabda Nabi:"Tidak akan kecewa bagi yang melaksanakan istikharah dan tidak akan menyesal bagi orang yang suka bermusyawarah dan tidak ada kekurangan bagi orang yang suka berhemat"(HR.Thabrani).

Cara Melaksakan Istikhoroh :

Shalat Istikharah tidak mempunyai waktu tertentu, asal dilaksanakan tidak pada waktu yang dilarang sebagaimana diatas.Dilaksanakan secara Munfarid (tidak berjamaah) dua rokaat dan dapat diulangi pada waktu yang lain sampai mendapat petunjuk dari Allah melalui mimpi, petunjuk hati yang kuat atau petunjuk dari orang yang shalih.Semua shalat sunah dapat dijadikan istikharah, seperti; shalat sunah Rawatib, Tahiyyatul masjid, shalat Tahajjud dan sebagainya berdasarkan hadits riwayat Bukhari.Sabda Nabi saw:"Apabila diantara kamu ada yang belum jelas tentang sesuatu maka hendaklah engkau shalat dua rakaat selain shalat yang wajib".

  • Niat didalam hati berbarengan dengan Takbiratul Ihram
  • "Aku niat shalat sunah Istikharah karena Allah"
  • Membaca doa Iftitah
  • Membaca surat al Fatihah
  • Membaca satu surat didalam al quran.Afdhalnya, rakaat pertama membaca surat al Kafirun dan rakaat kedua membaca surat al Ikhlas. (dilain riwayat ada yang mengkhususkan tiap raka'atnya ayat qursi 1x al-ikhlas 7x)
  • Ruku' sambil membaca Tasbih tiga kali.
  • I'tidal sambil membaca bacaannya
  • Sujud yang pertama dan membaca Tasbih tiga kali
  • Duduk antara dua sujud dan membaca bacaannya
  • Sujud yang kedua dan membaca Tasbih tiga kali.
  • Setelah rakaat pertama selesai, lakukan rakaat kedua sebagaimana cara diatas, kemudian Tasyahhud akhir setelah selesai maka membaca salam dua kali.
Selesai shalat Istikharah bacalah zikir yang mudah dan berdoa utarakan masalah yang akan dipilih, kemudian mohon petunjuk Allah untuk menentukan yang lebih baik.

atau bisa juga dengan membaca sholawat kepada Rasulullah Muhammad saw. Setelah itu, berdoa dengan doa berikut ini:

اللَّهُمَّ إِنيِّ أَسْتَخِيْرُكَ بِعِلْمِكَ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ اْلعَظِيْمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ, وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ, وَأَنْتَ عَلاَّمُ اْلغُيُوْبِ. اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ -وَيُسَمِّي حَاجَتَهُ- خَيْرٌ لِي فيِ دِيْنيِ وَمَعَاشيِ وَعَاقِبَةِ أَمْرِي، عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ فَاقْدُرْهُ ليِ وَيَسِّرْهُ ليِ، ثُمَّ بَارِكْ ليِ فِيْهِ. وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ شَرٌّ ليِ فيِ دِيْنيِ وَمَعَاشيِ وَعَاقِبَةِ أَمْرِي، عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ فَاصْرِفْهُ عَنيِّ وَاصْرِفْنيِ عَنْهُ، وَاقْدُرْ لِيَ اْلخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنيِ بِهِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat kepa-da-Mu dengan ilmu pengetahuan-Mu dan aku mohon kekuasaan-Mu (untuk mengatasi persoalanku) dengan kemahakuasaan-Mu. Aku mohon kepada-Mu sesuatu dari anugerah-Mu Yang Maha-agung, sesungguhnya Engkau Mahakuasa sedang aku tidak kua-sa. Engkau mengetahui sedang aku tidak mengetahui dan Eng-kau adalah Maha Mengetahui hal yang ghaib. Ya Allah, apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini (di sini, orang yang mem-punyai hajat hendaknya menyebutkan persoalannya) adalah baik untuk agamaku, kehidupanku, dan akibatnya terhadap diriku, di dunia atau akhirat, maka taqdirkanlah untukku, mudahkan jalannya, kemudian berilah berkah. Akan tetapi apabila Engkau mengetahui bahwa persoalan ini berbahaya bagiku dalam agama, kehidupanku dan akibatnya terhadap diriku, maka jauhkanlah persoalan tersebut dariku dan jauhkanlah aku darinya, taqdirkan kebaikan untukku di mana pun ia berada, kemudian berilah kerelaan-Mu kepadaku” (HR. al-Bukhari)


Berbagai sumber :